Dealer Suzuki PT.Nusantara Jaya Sentosa Bandung

Alamat: Jl. Cibeureum No. 48b Bandung. WhatsApp: 082295918184

Menu

Cerpen, Gadis Di Balik Jendela Kaca

Saturday, February 1st 2020.

Penulis: Vero Hana
Ade termenung sesaat melihat ibu sibuk mengemas barang ke dalam kardus. Berbagai jenis ukuran dan warna tempat penyimpanan barang sementara itu sudah hampir memenuhi ruang tengah. Dia teringat tangan kecil nakalnya yang suka membuat seluruh ruangan berantakan. Ibu pasti selalu mengomel meminta untuk merapikan. Itu semua akan menjadi kenangan di tempat ini. Termasuk masa-masa Ade menikmati kuliahnya di Jakarta.

Ade bertanya pada ibu seperti apa lokasi tempat tinggal baru. Wanita berumur empat puluh lima tahun itu meminta putranya mengubur semua sampah ke halaman belakang. Ade melenguh lelah pada hatinya. Memang tidak mudah melupakan kenangan masa dia di besarkan. Sedikit tertatih Ade membawa semua barang reot yang terlapisi kain berwarna lusuh. Menyandang cangkul di bahu kemudian menaruhnya ke tepi tiang. Ade mulai menggali tanah. Keringat sebesar jagung menyelimuti tubuh. Biasanya ada pak Dayat membantu bekerja. Namun ayah telah meminta supir itu berhenti dua hari yang lalu.

“Kenapa kamu tidak menggunakan topi?”

Ibu menaruh sebotol air mineral di lantai teras. Sementara barang telah tersusun rapi di dalam bagasi.

Setengah dari itu ayah mengikatnya ke atas mobil. Wanita berambut sebahu duduk manis melihat putra Sulungnya mengubur semua sampah bekas kedalam lubang. Dia berharap Ade menyukai tempat tinggal dan kampus barunya nanti. Meski dia tau raut sedih diwajah Ade ketika mendengar kabar buruk dari perusahaan ayah.

Setiap pulang sekolah Ade terbiasa duduk di kursi bawah jendela kamar. Dia selalu menyibukkan diri dengan tugas kuliah yang diberikan dosen bersama temannya. Kini kebiasaan itu akan berganti.

Dia tidak akan sering lagi beraktifitas sambil menatap keluar jendela ketika mata terasa lelah. Hari-harinya akan dipenuhi kebosanan setelah berada di rumah baru. Seperti yang terpapar dimatanya kini. Ade tidak terlalu banyak bicara selama menikmati perjalanan menuju keluar kota.

“Ada apa..? kamu tidak terlihat senang?”

Awan mendung kini telah berganti serpihan deras hujan. Langit gelap itu membasahi aspal kering komplek perumahan Anggur Sari.

Ade tidak dapat duduk di dekat jendela lagi karena dia belum memiliki apapun yang tertera di sana. Tak seperti rumah kelahirannya.

Masa itu dia selalu nyaman ketika melihat halaman rumput hijau dengan tanaman yang ditanam ibu. Sekarang pekarangan itu tak dimilikinya lagi.

Hanya ada sedikit pekarangan ditanami pohon pinang hias menjulang dan daunnya menghiasi jendela kamar.

“Sepertinya aku masih belum memiliki sesuatu dikamar ini, bu”

Ade memandang lurus ke arah jendela kamar. Komplek itu terlihat suram dari dalam ruangan. Hanya remang cahaya lampu rumah seberang jalan yang terlihat nanar. Padahal hujan tidak sederas saat dia merapikan ruangan bersama ibu. Istri mantan manager perusahaan besar itu menghela nafas panjang. Sebelumnya Ade sering membawa temannya menginap dirumah, makan bersama, belajar dan tertawa.

Dia benar-benar akan merindukan masa lalu dengan kawan lama jika dirinya tidak menemukan sesuatu yang bisa membuat dia merasa bersemangat lagi.

“Tidurlah, besok pagi kamu harus pergi ke kampus barumu”

Ade menoleh pada jam dinding. Waktu pukul 21.30 WIB. Ibu meninggalkannya sendiri di kamar. Manik coklat itu belum bisa terpejam. Kaki tegapnya memilih mendekati jendela. Dia belum ingin memberikan tirai pada kaca bening itu.

Jika saja ada seseorang melihatnya sedang sendirian, orang itu pasti akan dapat melihatnya lebih jelas.

“Ma, besok akan ada pertemuan wali murid disekolah”

Suasana makan yang tidak di harapkan Nia. Kedua orangtuanya diam menikmati makanan mereka. Bunyi cengkrangan sendok sesekali memenuhi ruangan itu. Nia sama sekali tidak menyentuh makanannya. Bi Irma terlihat khawatir. Wanita tua itu mencoba menghampiri Nia yang terpaku pada kursinya.

“Mama dan papa akan berangkat ke Singapura besok” papa Nia mengakhiri makan malamnya.

“Biarkan bi Irma menemanimu besok, mama dan papa sibuk bekerja”

Nia tidak dapat menghitung keberapa kali orangtuanya seperti ini padanya. Sejak kecil gadis manis itu selalu di perlakukan hal yang sama. Hati dan pikirannya tak pernah luput dari kesepian. Tatapan kosong Nia seakan menandakan bahwa dia telah lelah mengeluarkan air mata.

“Bu, Ade berangkat dulu”

Sepasang mata sayu memandang tangan kekar memberi salam dari seberang jalan. Ayah telah menunggu di dalam mobil. Mesin kijang itu siap untuk mengantar Ade ke kampus barunya. Ibu tersenyum tipis melihat putranya yang terlihat sedikit ceria pagi ini. Mungkin sesuatu telah mengubah pikirannya sejak tadi malam.

“Non..”.

Wajah pucat menoleh ke arah pintu. Nia tidak mau keluar kamar. Dia tetap berdiri di jendela kaca sejak mama dan papa pergi. Ini sudah waktunya sarapan. Bi Irma tak pernah lelah mengingatkan Nia untuk selalu menjaga kesehatannya. Gadis kelas tiga SMA itu sama sekali belum punya selera makan. Batinnya sudah lama menderita sejak dia duduk dibangku SD. Namun orangtua Nia belum menyadari apapun. Rumah mewah serta fasilitas lengkap bukanlah sesuatu yang bisa membuat hatinya bahagia.

Sore ini terpancar rona ceria diwajah pemuda tampan yang baru saja kembali dari kampus. Dia meregangkan tubuhnya sementara setelah turun dari ojek online. Ayah akan terlambat pulang ke rumah hari ini. Sekilas bibir pasi itu tersenyum. Entah kenapa Nia berpikir pria ini terlihat lucu.

“Bi, besok temani saya ke sekolah, Saya juga ingin sedikit bekal makan siang”

Bi Irma menemani Nia di kamar sepanjang hari. Dia tidak tega melihat keadaan Nia semakin hari memburuk. Gadis yang di kasuhnya sejak kecil itu meminta dirinya untuk tidak mengatakan apapun tentang Nia pada kedua orangtuanya. Raut resah dan khawatir selalu membayang pada wajah keriput bi Irma.

“Kamu kelihatannya senang sekali, bagaimana kampus barumu hari ini?”.

Suara lembut ibu membuyarkan pandangan Ade pada gadis di balik jendela kaca. Pemuda itu sudah terpana berkacak pinggang sejak tadi. Hatinya penuh tanda tanya siapakah gerangan gadis manis berkulit putih yang berada di balik jendela? Rambutnya hitam panjang terurai dan dia menggunakan gaun berwarna abu-abu muda.

“Kamu melihat siapa, de..?, ayahmu sudah menunggu sejak tadi di mobil”.

Ade sempat memperhatikan gadis sendu itu malam tadi. Dia selalu berdiri dijendela kaca kamarnya. Mata sayu suram tak berhenti untuk menatap jalan yang berujung pada gerbang komplek perumahan Anggur Sari.

“Nanti aku mungkin pulang agak telat bu”

Ade pamit mencium tangan ibu. Dia beralih pada ayah yang sudah siap untuk pergi dengan mobil kijang tua. Ayah sengaja menjual mobil fortuner yang hanya dipakai selama tiga bulan untuk mencukupi kebutuhan ibu dirumah, selama perusahaan mengalami masalah. Ade punya niat untuk mencari kerja paruh waktu di sela-sela kuliah. Ayah tertawa mendengar ocehan putranya selama perjalanan. Pemuda itu sempat melihat mobil sedan berwarna hitam parkir dihalaman SMA Bhakti Jaya. Gadis manis berseragam putih abu-abu yang tinggal di rumah seberang jalan tidaklah jauh darinya selama ini.

“Lu yakin mau nyari kerja part time?” dua orang laki-laki berlari menghampiri Ade ke dalam gedung Universitas Bhakti Jaya. Pria berpenampilan sedikit metal itu bertanya pada teman barunya.

“Gw baru aja dapat info. Kantin gedung sebelah buka lowongan part time. Kalau lu mau, ntar coba aja samperin”

Ade punya banyak peluang. Memiliki kerja paruh waktu di kantin sebelah tidak akan membuatnya merasa repot mengatur jam kuliah. Dia juga beruntung kalau dirinya akan lebih leluasa mendekati gadis yang membuat hatinya menyimpan dorongan untuk lebih mengenal perempuan pendiam itu.

Dua jam mata kuliah pertama selesai. Ade bergegas pergi ke sebelah. Kantin tak jauh berada dari loby SMA. Semua siswa ramai memenuhi taman tempat mereka menikmati bekal makan siang. Ade menebar pandangannya berharap menemukan seseorang yang ingin didekatinya.

“mau pesan apa nak?”
Ade tergugau. Dia menjadi salah tingkah pada bibi pemilik warung. Pemuda itu mengungkapkan niat untuk meminta kerja paruh waktu pada wanita yang hampir terlihat sebaya dengan ibu. Kantin ini lumayan ramai pengunjung. Selain siswa SMA, majelis guru dan umum juga memenuhi tempat itu. Kedua temannya juga akan sering mampir menemaninya dengan secangkir capuchino dingin dan teh susu.

“minuman disini emang the Best pokoknya” Hidayah tertawa pelan. Mereka baru saja datang dan memesan dua gelas minuman. Ade tersenyum geli melihat tingkah kedua temannya itu. Dia akan mulai bekerja besok siang. Ayah dan ibu tidak pusing lagi memikirkan kebutuhan yang dia inginkan. Ade bisa membeli apapun yang di perlukan selama dirinya tekun bekerja di sana. Sebagai seorang laki-laki Ade tau dia harus mandiri. Membebani kedua orangtua bukanlah yang di harapkannya. Ketika dia telah bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri, membahagiakan seorang gadis yang di cintainya tak akan menjadi hal yang sulit.

Ade mengambil duduk di depan temannya. Sesekali kedua pemuda itu menawarkan minuman mereka. Namun mata hatinya lebih memilih memandang ke seluruh taman kantin. Dia sangat ingin melihat gadis yang sempat dia lihat di gerbang sekolah tadi pagi. Agus dan Hidayah sibuk bermain mobil legend. Sekilas mereka mengalihkan mata pada pemuda berkaos merah yang melangkah ke teras kantin. Tatapannya menyapu semua halaman teduh ditanami pohon hias. Di sudut pandangannya tak menyadari gadis manis yang dicarinya baru saja duduk membelakanginya.

“de, kita mau balik dulu ke kampus. Ada yang mau gw cari”

Bel berbunyi dari sudut loby. Semua murid kembali ke kelas. Nia masih belum memakan apapun pada kotak bekalnya. Bibir tipis itu kembali memucat. Rona wajahnya memudar. Nia terlihat menahan sakit pada perutnya. Sedikit tertunduk Nia menaruh tangan diulu hati. Wajahnya sesekali meringis dan di basahi keringat dingin.

“lah.. Kok anak itu belum juga kembali ke kelas?”

Ade menghampiri bibi kantin yang masih menggunakan celemek di bajunya. Dia tau banyak hal tentang Nia. Gadis cantik konglomerat itu selalu merasa kesepian. Bahkan nilai rapornya tidak sebagus tahun yang lalu. Prestasinya semakin memburuk karena Nia sering absen di kelas.

“sebenarnya dia gadis yang baik, hanya saja dia seperti itu karena kurang mendapatkan perhatian orangtua”

Ade termenung mendengar ucapan bibi. Dia ingat saat pindah pertama kali ke perumahan Anggur Sari setelah ayah kehilangan pekerjaan tetap. Ibu masih setia menunggu ayah dirumah. Sekelumit rasa syukur muncul di hati karena Ade masih mendapatkan kehangatan bersama keluarga. Meski dia kehilangan kenangan tentang masa lalu. Tapi dirinya telah mempunyai sesuatu di tempat yang belum lama asing itu. Melihat gadis di balik jendela kaca rumah seberang jalan, adalah sesuatu yang telah termiliki. Walau hanya sekedar menatap gadis bernama Nia dari jendela. Mendekatinya sekarang tanpa penghalang apapun, dia akan berusaha menemani, bicara dan menghibur gadis Malang itu.

“hey..”

Kadangkala wanita bila mulai rapuh mereka berharap pria pengertian datang menemani. Meski hanya sekedar teman. Setidaknya dia bisa menerima keluh kesah di hati. Tidak seperti mantan yang pernah singgah lalu pergi. Sesaat Nia teringat masa lalunya.

“kamu tidak apa-apa?”

Bekal makan siang Nia tertumpah diatas rumput. Ade segera merapikan kotak berwarna putih itu lalu menaruhnya kembali ke dalam pembungkus. Tanpa sengaja dia menenggadah. Manik coklat menangkap wajah tirus pucat berkeringat terlihat kesakitan.

” kamu kenapa?”

Cuaca cerah berlalu. Awan hitam ditepian langit kini menguasai hamparan cahaya. Setetes hujan mulai turun. Rupa tampan itu terselimuti rasa khawatir. Nia tidak bicara sepatah katapun. Tubuhnya terlihat lemah. Ade mencoba memapah. Gadis itu tak sanggup berdiri.

“aku akan memabawamu ke rumah sakit”

Ade ingat sesuatu yang dia katakan pada ibunya. Bayangan flashback berputar ke kamar baru pada saat hujan turun deras. Dia belum memiliki sesuatu di tempat itu.

Tapi sejak matanya menemukan sosok gadis yang dia gendong saat ini, Ade berfikir mungkin ketika itu rasa penasaran yang menghantui dirinya teraliri cinta.

“Cinta?”, Ade tersenyum tipis mendengar ocehan temannya di ponsel.

“Iya, kita berdua ngga sengaja liat lu kehujanan sambil gendong cewek. Btw, tas lu udah gw amanin”

Karena cintalah yang membuatnya basah tertimpa hujan. Dia sama sekali tidak peduli pada kaos merah lembab yang dipakainya. Ade duduk terdiam di sebelah Nia.

Menatap penuh iba dan cemas jika saja perasaannya tak tersampaikan. Ucapan dokter memenuhi isi kepalanya tentang keadaan gadis itu.

Dia baru saja tau kisah hidup Nia melalui bibi kantin sekolah. Kini pemuda yang baru saja lima hari jatuh cinta terlihat sedih mendengar kenyataan beberapa menit yang lalu. Sesuatu yang disembunyikan Nia selama ini.

“dia mengidap kanker lambung stadium akhir”

Gadis yang belum lama dia lihat di jendela kaca terkapar lemah di pembaringan. Terlintas bayangan tatapan Nia melihat jauh ke gerbang komplek perumahan Anggur Sari dengan wajah sendu. Apakah dia selalu seperti itu setiap waktu? Menunggu kedatangan orangtua yang sibuk dengan urusan dunia. Hingga gadis pendiam ini berada dirumah sakit dalam keadaan kritis.

Mama dan papa. Hati Nia sangat rindu. Kapan mama dan papa punya waktu untuk Nia? Nia sangat kesepian. Tapi Nia beruntung punya bi Irma yang selalu perhatian pada Nia.

Ucapan yang teriringi hati tersayat itu sempat tertulis dalam buku harian. Nia mengeluarkan air mata dalam tidurnya. Seakan kalimat itu menggema dalam mimpi.

Wajah pucat Nia di penuhi kembali dengan keringat dingin. Masker oksigen tidak bergerak teratur. Suara monitor CRT pasien tak menentu. Ade mulai berada di puncak kekhawatiran.

Namun tangan lemah itu mencoba menenangkan. Mata nanar mengerjap sedikit menatap pemuda disampingnya. Nia mencoba melepaskan masker oksigen untuk dapat bicara dengan Ade. Tapi bibir pasi itu hanya dapat tersenyum.

“Bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan?”

Ade mengusap tangan Nia yang dingin. Gadis itu masih sulit untuk berbicara. Telaga bening pada pelupuk mata semakin deras. Sesekali bibir tipis Nia mencoba untuk menyampaikan satu kalimat pada laki-laki yang belum dikenalnya.

“Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk berbicara padaku”

Seulas senyum terukir pada Ade yang rupawan. Dia menceritakan banyak hal pada Nia sejak Ade pindah bersama keluarganya keluar kota. Dia merasa seperti kehilangan sebagian dirinya, karena tak banyak yang dilakukannya di kamar baru.

Namun sejak pertama kali melihat Nia di jendela kaca kamar, Ade mulai penasaran dan ingin mengenal lebih dekat gadis manis di depan rumahnya itu.

Memandang ke jendela kamar rumah seberang jalan komplek selalu dihabiskannya setelah pulang kuliah. Hingga saat ini Ade bersama dengan wanita yang diam-diam dia cintai sejak saat itu. Sekecup ciuman mendarat di tangan lemah Nia yang dingin.

“Aku jatuh cinta padamu”

Suara monitor pasien berdenging. Pipi basah tertetesi air mata yang terakhir kalinya. Ade menatap tak percaya. Dia kehilangan cinta pertama dalam hidupnya.

“Andai saja aku mengenalmu lebih awal, mungkinkah kamu tidak akan berakhir seperti ini?”

Mobil Terbaru

Related Article Cerpen, Gadis Di Balik Jendela Kaca

Sunday 26 January 2020 | Cerpen

A true story “Pah, cepat transfer uang nya, udh cair kan? Aku janji sama kakak ku uang nya tak akan kamu ganggu lagi ” Segera…

Tuesday 28 January 2020 | Cerpen, Novel

Udara pagi ini begitu sejuk, semalam turun hujan tapi hanya sebentar. Saat kubuka jendela, nampak pohon mangga yang ditanam Ibu sudah mulai berbunga lagi. Aku…

Sunday 26 January 2020 | Cerpen

Dekat Bukan Berarti Cinta #Bebas #Repost Namanya Dira, laki-laki tampan berkulit tinggi dan berbadan atletis, tingginya sekitar 175cm tepatnya berapa aku tidak tahu, karena saat…