Dealer Suzuki PT.Nusantara Jaya Sentosa Bandung

Alamat: Jl. Cibeureum No. 48b Bandung. WhatsApp: 082295918184

Menu

Novel, Ibu Akun Ingin Pulang

Thursday, February 13th 2020.

Judul : “Ibu aku ingin pulang”
Oleh : Irma Claudia Sembiring

“Sudah berapa kali, aku bilang! Dimana, letak otakmu Sri!”

Bentakan itu, seluruh isi kampung pun tau. Ya, begitulah … Bang Ucok. Jika amarahnya meledak, dia akan memperlakukanku bukan seperti istrinya. Lebih kasar lagi, dia pernah memperlakukanku seperti binatang. Tengah hamil tua, ditendangnya bokongku. Ya, pasti tau betapa sakitnya … Apalagi dengan keadaan hamil tua. Untung saja, ketika di periksa ke bidan, bayi kami masih dalam keadaan sehat.

“Maaf Bang, uang tadi siang … Aku pakai buat beli vitamin bumil.”
“Alasan saja kau Sri!, Ibuku dulu hamil aku, gak ada minum-minum vitamin, aku sehat!”
“Bedalah, Bang … ”

Belum siap aku bicara, tamparan keras mendarat di pipiku. Begitu panas terasa, ya … Aku ingat, pipi kananku. Sampai di situ ingatanku, lalu duniaku seakan berubah menjadi hitam. Entah, apa yang terjadi. Darah mulai mengalir, dan aku merasakan itu. Tetapi, mataku tak bisa ku buka. Badanku lemas seketika, ya! Aku pingsan.

Sayup-sayup masih terdengar olehku, “Halah … Cok, ceraikan saja lah! Gak ada gunanya, kerja enggak, kaya enggak!”
“Secepatnya buk, aku juga sudah capek melihat tingkah si Sri.”

Dokter dan suster rumah sakit mengunjungi ruangan ku. Ku dengar percakapan mereka, walau berat membuka mata ini.

“Mau apa, Dok” Bang Ucok, bertanya sinis.
“Ini pak, harus kita cek, apakah rahim nya sudah dalam keadaan baik.”

Betapa bingungnya aku, mendengar perbincangan mereka. Ada apa dengan anak yang ku kandung. Aku berusaha, membuka kedua mataku. Astaga! Betapa terkejut aku. Mengapa perutku yang besar kini menghilang?

“Dok, dimana anakku?”
“Loh, Ibu Sri udah bangun?”
“Iya, Dok. Dimana anak saya!?”
“Maaf, Bu. Ibu mengalami ‘intrauterine fetal death atau IUFD’ dimana, dalam bahasa awam kita ialah kondisi janin yang meninggal di dalam kandungan setelah janin berumur 20 Minggu.”

Hancur duniaku seketika, ibu … Inikah balasanku karena melawanmu di masa lalu. Aku menangis, tak ku ketahui. Saat Bang Ucok menampar pipiku, aku terjatuh kepinggir meja. Tak sengaja, sudut meja itu terhantam perutku.
Sekali lagi, itu semua ku dengar langsung dari penjelasan Ibu mertuaku.
.
.
Setelah memeriksa … Dokter dan suster keluar dari ruangan ku.
Sudah kuduga, cacian dan makian ku dengar dari Ibu mertuaku. Dengan kondisiku yang masih sangat terpukul, aku hanya bisa diam seribu bahasa.
Begitu juga dengan Bang Ucok, tiada rasa penyesalan di dirinya.
Seakan-akan aku lah yang bersalah atas segalanya.

“Kalau istri gak dengar suami, ya gitu, durhaka!”

Aku hanya bisa menangisi keadaan, bagaimana ini semua terjadi? Seakan, aku merasa seorang diri. Duniaku merana, sebatang kara. Anakku? Aku benci! Arrrggghhh!
Ku kepal kedua tanganku, menahan amarah yang ada.

Ku ingat kembali, larangan kedua orangtuaku. Ketika … Bang Ucok, melamar ku.
Sontak, Ayah dan Ibu … Menentang nya. Sebab, Bang Ucok beda suku dengan kami, apalagi keluarganya dari keluarga serba ada atau golongan menengah ke atas. Sedangkan kami? Ya, kami keluarga sederhana. Dengan kondisi ekonomi serba kecukupan. Pendidikan sekolahku pun, hanya sampai jenjang Sekolah Menengah Atas.

Di daerah kami, masih menggenggam adat-istiadat . Banyak orang tua sepuh mengatakan, jika suku kami menikah dengan suku lain, keluarganya tidak harmonis. Inilah yang dijunjung oleh Ayah dan Ibu.
Malam itu, masih teringat jelas di ingatanku.
Ku seret kedua koperku, ya! Aku nekat, aku ingin menikah tanpa restu kedua orang tuaku.
Ibu menggenggam tanganku, dan mengajakku duduk dulu.
Namun, tidak dengan Ayahku.
Kata-katanya sampai sekarang terlintas jelas dalam benakku.

“Selangkah kau keluar dari rumah ini, jangan kau kembali ke rumahku! Jika selangkah kau maju, jangan anggap kami orang tuamu!”

Tak ku hiraukan semuanya, ku bawa koper-koper ku dan ku langkahkan kakiku.
Aku terpaksa melakukan semuanya. Sebab aku sudah tak perawan, dan semua karena Bang Ucok.

“Tak usah pura-pura sedih kau, Sri!”

Aku terkejut, lamunanku buyar. Siapa lagi? Pasti orang yang paling ku benci ….

Ibu mertuaku, memang sangat tidak menyukaiku. Sebab katanya kami beda kasta. Betapa sakit hidup yang kurasakan. Cinta terlarang karena restu orang tua.
Inilah akibatnya.
Aku hendak pulang ke rumah orangtuaku … Namun, aku masih takut kepada ayah.

“Besok kita urus surat cerai!”

Bang ucok mengatakan itu dihadapan Ibunya, dan aku tahu … Itu dorongan Ibu mertuaku.
Aku hanya bisa menangis.
Sepertinya aku sudah tak kuat.
Ibu, dimana kau ibu!

Ku cabut selang infus di tanganku, sekuat tenaga aku berlari.
Ku lihat Bang Ucok berusaha mengejar ku. Tak ku hiraukan lagi apapun di belakangku.
Yang ku ingat, aku seorang diri.
Ku lihat, jembatan di ujung jalan.
Dan … Ya!
Aku lompat. Banyak bebatuan di bawah jembatan itu, air sungainya pun deras.
Kini …
Aku sudah berjumpa dengan anakku.
Namun, dendamku … terbawa sampai ke alam lain yang kini ku tempati.
Bang Ucok, aku menunggumu disini!
Anakmu, mencari mu!

Ibu, aku merindukanmu!
Apakah Ibu tahu, jasadku tak terlihat sampai sekarang.

Tamat

***

Cerita hanya fiksi, terimakasih.
Krisan sangat di terima, dan saya sangat bersyukur jika ada yang memberi saya Krisan 🙏🏻

Mobil Terbaru

Related Article Novel, Ibu Akun Ingin Pulang

Tuesday 28 January 2020 | Cerpen, Novel

Udara pagi ini begitu sejuk, semalam turun hujan tapi hanya sebentar. Saat kubuka jendela, nampak pohon mangga yang ditanam Ibu sudah mulai berbunga lagi. Aku…

Monday 3 February 2020 | Cerpen, Novel

Minggu dini hari asih sedang menanak nasi di tungku yang sangat tradisional. “Makk….asih nyari kayu bakar dulu di belakang soalnya persediaan kayu bakar kita tinggal…