Dealer Suzuki PT.Nusantara Jaya Sentosa Bandung

Alamat: Jl. Cibeureum No. 48b Bandung. WhatsApp: 082295918184

Menu

Novel, Semua Ada Masanya

Tuesday, January 28th 2020.

Udara pagi ini begitu sejuk, semalam turun hujan tapi hanya sebentar. Saat kubuka jendela, nampak pohon mangga yang ditanam Ibu sudah mulai berbunga lagi. Aku teringat saat Ibu menanam mangga itu, dia bilang,

‘Layla, nanti ceritakan pada anak-anakmu, kalau mangga ini ditanam nenek untuk cucunya’

Ibu, semoga ucapanmu nanti akan jadi kenyataan.

Samar kudengar lantunan suara Bapak membaca Qalam Ilahi. Kebiasaan setelah dhuha, Bapak pasti mengaji. Aku mendekati kamar Bapak, mengendap endap. Tidak mau mengganggu bacaannya.

Aku duduk di depan pintu yang tidak rapat, kuamati wajahnya yang begitu khusyu. Tanpa sadar, aku tertidur, lantunan suara Bapak seolah menina bobokkanku.

“Layla, bangun Nak, kenapa tidur di depan pintu?”

Aku mengucek mata, nampak senyum tulus Bapakku tercinta, sedang berjongkok, mengusap kepalaku. Bapak yang dengan ridhonya, maka ridho pula Rabku.

“Tadi mau masuk, tapi Bapak ngajinya khusyu, saya jadi tertidur! Oh yaa Bapak belum sarapan?”

Bapak berusaha berdiri, aku buru-buru bangkit dari duduk, lalu memegang tangannya. Membantu berdiri. Kugandeng tangannya menuju meja makan.

“Aaahh Bocing sudah tua, punggung sudah sakit, tulang lutut bunyi-bunyi, Layla..perbanyak ibadah diwaktu mudamu Nak, kalau sudah tua begini, ibadah kita sudah terbatas.”

Kucium tangan Bapak, semoga sisa umurnya selalau dilindungi, diberi kemudahan untuk semakin istiqomah menjalankan kewajibannya.

“Doakan saya ya Pak, agar selalu menjadi anak dan hamba yang tahu diri, agar selalu dijaga dari kemungkaran.”

Bapak memelukku, kami menangis bersama. Kuajak Bapak sarapan, sudah kubuatkan nasi goreng, yang oleh Bapak diberi nama nasi garu garu. Karena nasi gorengnya kucampur putih telur.

“Waah nasi garu garu, enak ini kalau ada ikan asin!”

Aku pura-pura melotot ke Bapak, dia tertawa, mengangkat tangan. Lalu menyuap nasi garu garunya.

“Bocing mau ikan asin? Nanti tensi naik bos!”

Dia menggeleng sambil mengunyah pelan. Giginya tidak utuh lagi, jadi makannya lambat. Aku senang sekali, jika melihat Bapak makan. Semoga Allah panjangkan umur Bapak, tapi semoga Allah tidak memanggilku mendahuluinya. Aah, rasanya aku ini kurang bertawakkal.

“Bapak betul mau ikan asin?”

Tanyaku kemudian, aku memang sangat menjaga makanannya, tapi jika kulihat Bapak menginginkan sesuatu, maka kuberikan, aku tidak mau menyesal suatu hari nanti.

“Nanti kalau tensi Bapak naik, kamu yang susah Nak, Bapak juga nanti yang sakit. Jadi lupakan saja ikan asinnya yaa!”

“Sedikit saja kan boleh, nanti siang ada menu ikan asin deh, sayur daun kelor dan sambel, okee bos!”

Sungguh, aku sangat bahagia, melihat matanya bersinar. Dia habiskan nasi gorengnya yang sudah kutakar. Dia teguk air hangat dengan tangan yang sedikit bergetar.

“Bapak ikut yaa, sudah lama Bapak tidak ke pasar, Bapak mau cari ikan gabus, sarang madu sama mau cukur sekalian!”

Kuanggukkan kepala. Hukum alam itu kini kualami, diwaktu kecilku, aku sangat sering minta ikut ke Bapak, kadang saat ada panggilan ceramah, baik itu tauziah, maulid, aku sering ngamuk mau ikut dan Bapak sangat sering mengajakku.

“Jangan suka melamun nak, tidak baik, bisa panjang angan angan, perbanyak dzikir..tapi ikan asin tidak boleh batal yaa.” Ucapnya sambil mengukir tawa, nampak giginya yang ompong.

💓💓💓

Saat akan mengunci pintu, kulihat mobil Syafeea memasuki halaman. Perasaanku jadi tidak tenang, aku tahu betul Syafeea tidak akan datang kecuali ada maunya.

Kulirik Bapak, dia tersenyum. Ada kebahagiaan diwajahnya. Kerinduan seorang Bapak pada anaknya. Aku menarik nafas, berdoa, semoga kedatangan Syafeea kali ini tidak menyusahkan Bapak.

“Assalamualaikum, Bapak!”

“Waalaikumussalam warohmatullahi wabarakatu, alhamdulillah kamu datang Nak, kenapa tidak kasi kabar dulu!”

Mereka berpelukan, aku juga memeluk adikku yang lagi berbadan dua. sebenarnya aku sangat menyayangi Syafeea. Hanya saja aku tidak suka dengan ketidak perduliannya pada orang tua.

Di belakang Syafeea, ada Agung, suaminya dan seorang lagi yang tidak kukenal.

“Untung saja kami belum berangkat, tadinya mau ke pasar, Bapak mau makan ikan asin!”

Kupersilahkan mereka masuk, Bapak duduk di ruang tamu, menemani Agung dan temannya, sementara aku dan Syafeea kedalam.

“Kak, apa kabar!”

“Baik, alhamdulillah, kamu gimana?”

“Baik, kak, teman Kak Agung, itu namanya Rizal, dia lulusan teknik mesin, sekarang punya usaha bengkel mobil!”

Aku mencium aroma tidak sedap dari kata-kata Syafeea.

“Terus..”

“Aku ajak kesini, buat kenalan sama kakak, siapa tahu jodoh!”

“Dek, jodoh itu bukan sekehendak kita, meskipun nampaknya kita yang pilih. Dan semoga jodohku adalah orang yang mau menerimaku sepaket dengan Bapak. Tidak membatasiku merawat Bapak, seperti kamu!”

Aku mengambil gelas berkaki, menuang minuman dingin. Setelah meletakkan di atas nampan, kusodorkan pada Syafeea.

“Kak Layla aja yaa, kan saya tamu.”

“Diluar ada suamimu dan Bapak, dek. Tolong, kamu yang antar keluar, yaa!”

“Tapi kaak, Rizal mau melihatmu!”

“Kamu mengenalku dengan baik, cepat antar minuman ini, atau tidak ada minum untuk tamumu!”

Dengan enggan, dia mengambil nampan berisi gelas dan camilan. Sesaat kemudian dia kembali dengan wajah berbinar.

“Kak, nampaknya bapak dengan Rizal bisa nyambung!” Ucapnya sambil meletakkan nampan.

Aku tidak menanggapi kata katanya.

“Kamu kesini karena Bapak? Atau karena orang itu? Ingat ya dek, Bapak itu selalu rindu, tapi kamu jangankan datang, menelpon menanyakan kabar saja jarang!”

Wajahnya berubah serius. Aku lagi-lagi merasa ada sesuatu dibalik kedatangan Syafeea.

“Kak, kalau kamu menikah, rumah ini dijual yaa, uangnya di bagi tiga, rata, tidak boleh lagi kak Azis dapat lebih banyak.”

Gelas ditanganku jatuh, aku berdiri. Gerahamku rasanya mengeras menahan amarah.

“Kamuu, apa katamu? Rumah ini mau dijual, hee Bapak masih hidup, tidak ada diantara kita anaknya yang berhak menjual rumah ini. mau bagi tiga? Setan apa yang ada dikepalamu? Rumah ini milik Bapak, kecuali beliau sudah tidak ada, terserah mau dijual atau apapun saya tidak perduli!”

“Bilang aja kak Layla yang mau menguasai rumah ini, makanya tidak mau menikah.”

Mataku memanas, kupandangi wajah cantik adikku, kata orang, kami seperti kembar. Tapi kenapa hati dan pikiran kami begitu bersebrangan. Air bening mulai merembes diwajahku.

Kamu tidak akan menyentuh rumah ini, selagi Bapak masih hidup. Aku tahu, kak Azis juga pasti tidak setuju dengan Syafeea, tapi istrinya yang berbulu domba pasti akan menempuh segala cara agar Syafeea dan dia mau menjual rumah ini.

“Syafeea, pulanglah, jangan pernah kamu sakiti hati Bapak dengan kata-kata menjual rumahnya disaat dia masih hidup. Kalau kamu berani dan Bapak sampai sakit karena ucapanmu, kupastikan kamu tidak akan menginjakkan kakimu lagi di sini, di rumah ini!”

“Kak, kamu tidak berhak melarangku kemari, aku juga anak Bapak, rumah ini juga ada hak warisku!”

“Tidak ada diantara kita yang berhak atas rumah ini, selain Bapak!..oh yaa apa hidupmu begitu sulit? Sampai harus menunggu bagian dari rumah ini? Dek, kamu sedang mengandung, didik anakmu sejak dalam kandungan.”

Syafeea menatapku, tapi kemudian menunduk. Ada rasa iba dalam hatiku, melihat adik yang sangat kusayangi begitu serakah dan diperbudak nafsu duniawi.

Bapak masuk ke dapur, menemui aku dan Syafeea. Entah kenapa jantungku berdetak tidak karuan, apaka Bapak mendengar pembicaraan kami? Kulihat wajahnya biasa saja.

“Syafeea, suamimu bilang masih ada urusan lain Nak! Apa kamu tidak nginap semalam saja di sini?”

Adikku berdiri, dia memeluk Bapak. Ada butiran bening dari netranya yang luruh di pipinya yang semakin licin.

“Besok Kak Agung dinas keluar kota Pak, nanti saya kembali lagi, atau Bapak yang sekali kali mengunjungiku!”

Pelukan anak dan Bapak begitu erat, kupalingkan wajahku, tidak sanggup melihat mereka, dua orang yang begitu berarti bagiku.

“Iya sayang, nanti Bapak dan kakakmu Layla berkunjung ke sana, jaga dirimu ya Nak, jadilah istri shaleha, hormati mertua dan suamimu.” Sekali lagi Bapak mengusap kepala dan perut Syafeea.

Kami keluar, menemui Agung dan temannya. Aku mengatupkan tangan saat mereka berpamitan.

“Kak Layla, maafkan saya yaa, oh yaa kak, belum kenalan kan dengan teman kak Agung, ini Rizal, dan ini kak Layla!”

Syafeea, memperkenalkan aku dan Rizal. Aku mengangguk, begitu juga Rizal. Setelah berpelukan, akhirnya mobil mereka perlahan menjauh. Tinggallah aku dan Bapak dengan pikiran masing-masing.

“Pak, Alhamdulillah, rindunya sudah terobati! Allah maha baik ya, saat Bapak rindu, Syafeea muncul.”

“Ooh pasti, Allah itu maha baik Nak. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur!”

“Belanjanya gimana nii, ini sudah siang, bentar lagi sholat dzuhur. Bapak makan sayur bening labu kuning dan ikan bakar saja yaa!”

“Bapak terserah koki saja laa, daripada makan sop ayam hehehe!”

Aku kedapur, menyiapkan makan siang, sementara Bapak mandi, siap-siap ke Mesjid. Tidak lama kemudian, Usman, yang biasa bersih-bersih pekarangan juga sudah datang. Dia ku bayar khusus untuk menemani Bapak ke mesjid.

💓💓💓

Toko pakaian dan rumah jahitku semakin ramai, dua orang penjahit yang kupekerjakan nampaknya sudah mulai kewalahan. Akhirnya aku menerima satu orang tenaga penjahit lagi.

“Heee kamu pake penglaris kan, makanya banyak pelanggan!” Aku menengok ke arah datangnya suara sumbang tak bermoral itu.

Kulihat Avril menenteng rantang, berdiri di depan pagar rumah. Toko pakaian dan rumah Bapak memang berdampingan.

“Ngapain lagi kamu nenek sihir, sudah kubilang, jangan bawa makanan lagi untuk Bapak!”

“Kok kasar begitu, saya kurang baik apa coba, sebagai ipar dan menantu. Eeh awas yaa kalau ngomong sembarangan di depan Bapaknya Giza.”

Maksudnya? Ooh dari jauh kulihat kak Azis dan Giza, putrinya berjalan kerumah, hmm pantas saja siluman badak ini sok baik, bawa rantang pula.

“Kita lihat saja nanti, apa saya bisa menahan diri atau tidak!” Ucapku sambil terus memutar baut kaki meja dengan tang.

“Kamu tuh yaa, dasar tidak laku laku, makanya jadi orang jangan bertingkah, pakai ajukan syarat segala, kesannya Bapak jadi penghalang ka..!”

Belum selesai dia bicara, tang ditanganku kuarahkan ke jari telunjuknya yang diacungkan dekat wajahku.

“Addoowww, Laylaa kau gilaaa, saakiiiitt, kurang ajarrr.”

“Lancang kamu, bicara lagi, ayooo bicara..!”

Dia memasukkan tangannya ke mulut, wajahnya sampai memerah menahan sakit.

“Itu baru peringatan, kalau masih berani menghina dan membawa makanan tidak layak makan untuk Bapakku, yang aku tang bukan lagi tangan tapi bibirmu!”

Dia terus meniup telunjuknya, aku mengikuti langkah Avril menuju rumah.

“Ada apa sih, kog tadi teriak?”

Kak Azis melihat Avril yang terus meniup jari.

“Itu kak, tangan Avril kejepit tang, tidak sengaja sih, habis saya lagi betulin kaki meja, dia naro telunjuk sembarangan!”

“Kenapa kemarin kamu gak datang La? Bapak juga, padahal ditungguin sama orang tuanya Avril!”

Aku melihat ke arah Avril. Dia menggigit bibir bawanya. Aku tersenyum dalam hati.

“Bapak gak enak badan Kak!”

“Lhaa kenapa tidak bilang, terus sekarang Bapak dimana?”

Kak Azis melangkah masuk ke dakam rumah, dia menuju kamar Bapak.

“Bapak..! Assalamualaikum!”

“Waalaikumussalam, eehh cucu kakek, sini Nak!”

Bapak menggapai Giza, mencium kepala cucunya.

“Bapak..kenapa? Biasanya jam begini sudah jalan keliling, apa Bapak masih tidak enak badan?” Kuraba kening dan leher Bapak.

“Pak, kemarin saya menunggu Bapak, kenapa tidak datang!” kak Azis memegang tangan Bapak.

“Saya yang ajak Bapak temani beli kain,” jawabku kemudian.

“Sudahla Paa, gak apa apa Bapak tidak hadir, ini kan masih lamaran, nanti kalau acara intinya baru kita jemput Bapak yaa..maafkan karena kemarin kami tidak jemput Layla sama Bapak!”

Olaaalaaa Avril dengan wajah palsunya mulai beraksi.

“Iya Nak, tidak apa-apa, ayoo kita ngobrol di luar!”

Kami keluar dari kamar Bapak. Saat Bapak bermain dengan cucunya, kak Azis menarik tanganku ke dapur.

“Layla, kamu apa-apaan sih, kenapa membawa Bapak belanja saat dirumahku ada acara, kamu bikin kakak malu, keluarga Avril mengira kamu iri dengan Feby! jangan bilang Avril tidak menelponmu yaa, karena kemarin dia pakai ponselku.”

Kaan, apa kubilang, Avril memutar balik fakta lagi.

“Kak, jangan salah Faham, Bapak tidak enak badan, tidak mungkin kutinggalkan, mau ku ajak tapi..tapi Avril melarang!”

“Dek, tolong jangan bohong, kalau kamu tidak mau datang tidak apa-apa, tapi jangan fitnah iparmu.”

Aku ambil ponsel dari dalam saku baju, kuputar rekaman suara Avril. Wajah kak Azis memerah menahan amarah.

“Kak, tolong, jangan bicarakan dirumah ini, kemarin itu Bapak sudah siap mau ke rumah kak Azis, tapi kuajak jalan agar dia tidak tahu perlakuan Avril!”

Kak Azis tidak bicara lagi, dia buru-buru keluar, aku menarik tangannya.

“Kak, kendalikan dirimu, jangan buru-buru pulang, kasihan Bapak, dia sangat senang bermain dengan Giza. Kesampingkan perasaan kita demi Bapak ya kak!”

Dia hanya mengangguk dengan wajah menahan amarah.

Avril, ketahuila, ada masanya kamu akan menangisi perbuatanmu. Aku tidak mungkin menjelaskan yang sebenarnya di depan Bapak, itu sama saja aku menyakitinya.

Biarlah Bapak tetap melihat kebaikan Avril, yang harus mengetahui keburukannya adalah kak Azis.

Mobil Terbaru

Related Article Novel, Semua Ada Masanya

Monday 3 February 2020 | Cerpen, Novel

Minggu dini hari asih sedang menanak nasi di tungku yang sangat tradisional. “Makk….asih nyari kayu bakar dulu di belakang soalnya persediaan kayu bakar kita tinggal…

Saturday 1 February 2020 | Cerpen

Penulis: Vero Hana Ade termenung sesaat melihat ibu sibuk mengemas barang ke dalam kardus. Berbagai jenis ukuran dan warna tempat penyimpanan barang sementara itu sudah…

Sunday 26 January 2020 | Cerpen

A true story “Pah, cepat transfer uang nya, udh cair kan? Aku janji sama kakak ku uang nya tak akan kamu ganggu lagi ” Segera…